Trend Streak TikTok Mempengaruhi Interaksi Sosial di Kalangan Gen Z



Di era digital ini, media sosial sudah menjadi sebuah hal yang tidak dapat terpisahkan dengan generasi muda yang tumbuh besar dengan internet, atau yang lebih dikenal dengan Gen Z. Sebagai Gen yang melek dengan teknologi dan internet, tentunya mereka sudah tidak asing lagi dengan platform media sosial, khususnya Tiktok. Tiktok adalah platform yang memungkinkan penggunanya untuk membuat, memposting, menonton, dan membagikan video pendek yang menghibur serta memuat trend yang terus berganti. Hal ini dapat membentuk pengguna dalam berkomunikasi, berekspresi, dan berinteraksi dengan orang di sekitar mereka. Tiktok menawarkan fitur-fitur yang dirancang agar pengguna dapat menikmati platform tersebut setip hari, salah satunya adalah fitur
Streak.

Platform Tiktok meluncurkan fitur Streak atau runtutan yang dikenal dengan simbol api guna menjaga komitmen dalam pertemanan. Ketika pengguna berinteraksi dengan mengirimkan pesan kepada orang yang sama selama 3 hari berturut-turut, maka fitur Streak Tiktok akan muncul secara otomatis. Dengan begitu fitur Streak Tiktok merupakan penanda bahwa kalian telah menjalani komunikasi beruntun dengan seseorang. Dalam gambar api terdapat sebuah angka yang menandakan sudah berapa hari kalian telah berinteraksi dengan orang tersebut. Jika tidak ada interaksi yang terjadi dalam sehari, Streak Tiktok akan padam. Namun, jika tidak ada yang memulihkan Streak tersebut akan hilang.

Trend Streak Tiktok, akhir-akhir ini menjadi perbincangan hangat di media sosial, khususnya pada platform Tiktok. Banyak pengguna Tiktok yang berlomba-lomba untuk mempertahankan Streak Tiktok hingga merayakan dan memposting bahwa ia dengan temannya sudah mencapai 100 Streak hingga lebih dari 200 Streak. Hal ini, memunculkan banyak konten kreator untuk membuat konten tentang mengingatkan Streak dengan teman, sehingga pemilik Streak tidak lupa untuk berinteraksi dengan temannya guna menghidupkan Streak Tiktoknya. Namun, Streak Tiktok juga dapat menyebabkan keterpaksaan untuk berinteraksi guna mempertahkankan Streak Tiktok tersebut.

Seorang Gen Z yang merupakan pengguna Tiktok dengan akun @Fedoraasyhd memiliki ratusan Streak dengan temannya, dalam wawancara ia menjelaskan bahwa “Streak itu menurutku simbol komitmen pertemanan dan membantu biar makin akrab sama temen sih. Sebelum ada fitur Streak itu, aku sama temenku jarang banget komunikasi, bisa sebulan sekali, dan itu pun gak tentu, tapi waktu ada fitur Streak aku dan temenku jadi komunikasi tiap hari” Dari pernyataan tersebut, dapat disimpulkan bahwa Streak Tiktok sekarang sudah mejadi tolak ukur bagi kalangan Gen Z untuk berinteraksi atau menjaga hubungan pertemanan.

Namun, di balik sisi positif Streak TikTok, terdapat pula sisi negatifnya, Fedora menyebutkan bahwa “Sebenernya hidupin Streak Tiktok udah jadi rutinitasku yaa, sesibuk apapun itu pasti aku sempetin bentar, yaa walaupun kadang terganggu di tengah kesibukan tapi terpaksa harus interaksi, kadang aku cuma kirim stiker aja, yang penting Streak ngga mati aja sih. Karna kalo Streak mati tuh, jujur aku sedih, kecewa, dan merasa bersalah banget sih, apalagi kalau apinya udah 100 lebih, pasti itu bikin marah patner Streak sih.” Pernyataan tersebut menjelaskan bahwa Streak Tiktok terkadang dapat mengganggu di kala sibuk, namun adanya keterpaksaan agar tidak terjadi emosi negatif yang mempengaruhi dinamika pertemanan antara patner Streaknya.

Trend ini sebenarnya hanyalah aktivitas seru-seruan yang dilakukan oleh pengguna Tiktok guna menjaga komitmen pertemanan dengan mengirimkan pesan setiap harinya. Meskipun hal ini diakui dapat mempererat hubungan dengan teman, namun berpotensi menciptakan tekanan dalam berinteraksi, bahkan hanya untuk mempertahankan simbol api tersebut. Emosi negatif yang timbul saat Streak terputus menandakan bahwa fitur ini, dapat menggeser fungsi dari interaksi yang sesungguhnya. Oleh karena itu, disarankan agar pengguna fitur Streak Tiktok untuk menjaga persahabatan tidak ditentukan oleh ada atau tidaknya Streak api. Sehingga interaksi di media sosial tetap menjadi sarana positif.

 

Komentar

Postingan Populer