Sorotan Kasus HIV dan Pra-Kanker Serviks: Pentingnya Deteksi Dini dan Kepatuhan Berobat di Kalangan Muda

 

Mengutip dari beberapa postingan akun TikTok dokter SpOG @dokteramiraobgyn bahwa serangkaian kasus infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan pra-kanker serviks pada usia muda di Fakfak, Papua Barat menjadi perhatian serius. Menyoroti urgensi edukasi seksualitas, deteksi dini, dan kepatuhan pengobatan. Pengalaman dr. Amira, seorang dokter spesialis Obstetri & Ginekologi (SpOG), menunjukkan bahwa kelalaian dalam hal-hal tersebut dapat berakibat fatal, terutama bagi ibu hamil dan anak-anak.

dr. Amira membagikan kisah miris seorang gadis 15 tahun yang dirujuk ke rumah sakit dalam kondisi hamil enam bulan, didiagnosis reaktif HIV, sifilis, dan kondiloma akuminata (kutil kelamin). Gadis tersebut mengaku telah berhubungan seksual sejak usia 12 tahun dengan pria yang 10 tahun lebih tua. "Ibunya sangat kaget dan terluka, tapi yang pertama ditanyakan adalah kondisi bayinya," tutur dr. Amira, terharu akan ketabahan sang ibu.

Kasus serupa juga menimpa seorang perempuan 19 tahun yang hamil delapan bulan dengan HIV reaktif, terinfeksi dari pacarnya yang menolak berobat ARV (antiretroviral) meskipun sudah positif HIV dan masih sering berhubungan intim tanpa kondom. "Percuma ibunya minum obat ARV satu bulan ini, sementara pacarnya yang dengan HIV itu tidak mau minum obat. Yang menderita siapa? Yang dikorbankan siapa? Orang yang masih suci di dalam perut, yaitu bayinya," tegas dr. Amira. Data Kementerian Kesehatan tahun 2022 mencatat 14.000 anak di bawah 14 tahun terinfeksi HIV dari orang tuanya, menggaris bawahi dampak serius dari ketidakpatuhan pengobatan.

Dalam kasus lain, seorang perempuan 20 tahun yang hamil sembilan bulan dan baru mengetahui dirinya HIV reaktif saat persalinan. Ia menyembunyikan statusnya karena takut dikucilkan keluarga dan tidak rutin minum obat ARV. Hal ini sangat berisiko karena pengobatan ARV kurang dari enam bulan dapat meningkatkan kemungkinan penularan HIV ke bayi.

Untuk meminimalkan risiko penularan HIV dari ibu ke bayi, dr. Amira menjelaskan beberapa syarat penting yaitu:

1.        Pengobatan ARV Rutin: Ibu hamil dengan HIV wajib minum obat ARV rutin minimal enam bulan sebelum persalinan. Jika belum memenuhi syarat ini, persalinan idealnya dilakukan secara caesar.

2.        Pemantauan Viral Load: Tingkat virus HIV dalam darah (viral load) harus tidak terdeteksi. Jika viral load sudah undetected, risiko penularan ke bayi sangat kecil, bahkan ibu bisa melahirkan normal dan menyusui.

3.        Tidak Menyusui: Ibu hamil dengan HIV sangat disarankan untuk tidak menyusui, kecuali viral load sudah tidak terdeteksi, karena ASI merupakan media penularan HIV.

dr. Amira juga menyoroti tingginya risiko pra-kanker serviks pada perempuan dengan HIV, karena virus ini melemahkan sistem kekebalan tubuh. Salah satu pasiennya, seorang ibu muda 40 tahun yang telah hidup dengan HIV selama 15 tahun dan patuh minum ARV, didiagnosis lesi pra-kanker serviks setelah mengeluh keputihan. "Walaupun berobat rutin ARV, tetap dia bisa terdiagnosis lesi prakanker," kata dr. Amira, menegaskan pentingnya pemeriksaan rutin.

Kasus lain yang memprihatinkan adalah seorang gadis 18 tahun di pedalaman Papua yang positif IVA tes (Inspeksi Visual Asam Asetat) karena keluhan keputihan. Ia mengaku mulai berhubungan intim sejak usia 13 tahun, sebuah faktor risiko tinggi untuk kanker serviks.

Deteksi Dini dan Pencegahan Kanker Serviks adalah langkah Proteksi Diri. Untuk deteksi dini pra-kanker serviks, IVA tes menjadi pilihan utama karena cepat, akurat, dan gratis di seluruh puskesmas di Indonesia. Jika hasilnya positif, penanganan seperti TCA (Tricor Acetic Acid) atau krioterapi dapat segera dilakukan untuk mencegah perkembangan menjadi kanker. Selain itu, vaksin HPV juga sangat dianjurkan. Program vaksinasi HPV gratis tersedia untuk anak usia 9 tahun, baik laki-laki maupun perempuan, dengan efektivitas tinggi. Bagi yang tidak termasuk dalam program gratis, vaksin HPV tetap bisa didapatkan di rumah sakit.

"Jauhi Virusnya, Rangkul Orangnya": Pesan Kunci dr. Amira

dr. Amira berulang kali menekankan bahwa HIV bukanlah akhir dari segalanya. Ia menegaskan, orang dengan HIV dapat hidup normal jika patuh minum ARV seumur hidup, menjaga kepatuhan, dan rutin berkonsultasi dengan pusat pendampingan HIV.

"Jauhi penyakitnya, bukan orangnya," pesan dr. Amira. Ia mengingatkan pentingnya dalam pencegahan HIV dengan menjauhi seks bebas, bersikap setia pada pasangan, cegah dengan kondom jika berisiko, dihindari penggunaan narkoba dengan jarum suntik, edukasi kepada teman dan pasangan.Terutama bagi perempuan, dr. Amira mengingatkan untuk selalu menjaga diri dan memikirkan perasaan ibu, karena ibu adalah sosok yang akan selalu ada, bahkan saat orang lain menjauhi.

Demikianlah informasi mengenai kaitan antara HIV dan kanker serviks, yang juga telah ditekankan oleh dr. Amira, Sp.OG melalui edukasinya di platform TikTok. Penting untuk diingat bahwa deteksi dini dan penanganan yang tepat adalah kunci untuk meningkatkan kualitas hidup pasien HIV dan mencegah perkembangan kanker serviks. Seperti yang sering disampaikan oleh dr. Amira, kesadaran akan pentingnya skrining rutin seperti Pap Smear dan pemeriksaan HPV DNA, terutama bagi wanita dengan HIV, tidak bisa disepelekan. Edukasi yang terus-menerus, baik dari tenaga medis maupun melalui platform digital, diharapkan dapat meningkatkan pemahaman masyarakat dan mendorong tindakan preventif yang lebih baik.

Mari bersama-sama mendukung upaya pencegahan dan penanggulangan HIV serta kanker serviks, demi Indonesia yang lebih sehat.


Komentar

Postingan Populer