Harapan Indonesia Hijau Bergetar Paling Kuat di Sudut Kecil IIMS



Saya datang di hari ketiga pameran. Gemuruh lagu dan kerlap-kerlip lampu menggema di setiap sudut aula Grand City Surabaya, tempat dihelatnya Indonesia International Motor Show (IIMS) 2025. Dari tanggal 28 hingga 30, kota ini menjadi panggung perayaan mesin, inovasi, dan kemajuan teknologi otomotif. Jejeran mobil dan motor, dari Honda hingga BYD, dari skuter matic hingga motor gede menyambut langkah pengunjung dengan kilau bodi dan aroma baru. Namun, langkah saya justru berhenti di sebuah ruang yang lebih sederhana. Bukan di tengah hingar bingar pabrikan ternama, tetapi di sebuah sudut yang diam-diam bersinar: ruang kecil tempat mahasiswa-mahasiswa muda memamerkan mimpi dan inovasi mereka.

Di sana, di ruang yang tampak seperti hideout, terdapat enam booth karya kampus dari berbagai penjuru negeri. Saya berbincang dengan tiga tim yang berasal dari dua kampus besar: EVOS dari Universitas Airlangga, serta Nogogeni dan Antasena dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Mereka tidak membawa nama besar industri, tapi mereka membawa sesuatu yang jauh lebih penting yaitu tekad, kerja keras, dan gagasan segar tentang masa depan mobilitas berkelanjutan.

Tim EVOS UNAIR (Electric Vehicle on Study) hadir dengan dua kendaraan: Alerta, sebuah go-kart listrik ramping nan gesit, dan Sadas, motor listrik yang mampu menembus kecepatan hingga 180 km/jam. Alerta sendiri dapat melaju hingga 80 km/jam, dilengkapi baterai paralel kanan-kiri untuk keseimbangan, serta motor pendorong di bagian belakang yang dibekali sistem pendingin berbasis air. Saat bertanding, bagian baterai kanan dan kiri akan diberi dry ice dalam slot khusus sebagai pendingin tambahan.

Kak Mahdi dari tim EVOS UNAIR berbagi cerita tentang bagaimana keterbatasan justru membentuk karakter tim mereka. Tantangan seperti kurangnya alat las atau persoalan teknis tentang pusat gravitasi kendaraan memaksa mereka berpikir lebih kreatif. “Misalnya untuk Alerta sendiri, kita butuh ngelas tapi kita gak punya alat buat ngelasnya. Jadi kita harus keluar untuk cari sendiri,” ujarnya. Meski begitu, semangat tim tetap terjaga berkat manajemen waktu yang rapi dan terstruktur selama satu tahun penuh.

Ia pun menyampaikan pesan yang menyentuh: bahwa proses adalah bagian tak terelakkan dalam setiap pencapaian. "Kalau ingin membuat sesuatu yang baru, pasti akan ada yang menjatuhkan. Jadi jangan aims for perfection but aims for progress," kata Kak Mahdi. 

Lalu saya melangkah ke booth tim Nogogeni dari ITS. Tahun ini adalah tahun ketiga mereka ikut serta di IIMS, dan untuk tahun 2025 ini, mereka memamerkan go-kart listrik yang dikembangkan khusus untuk kompetisi PLN ICE. Sebelumnya, mereka telah tampil dengan kendaraan berbahan bakar listrik dan etanol. Proyek ini, sepenuhnya didukung oleh PLN, mulai dari komponen hingga pendanaan, tetapi tetap memerlukan kerja keras dalam sisi teknis, terutama akselerasi dan penempatan baterai yang efisien.




Namun, tantangan terbesar bukan berasal dari mesin, melainkan dari manusia: manajemen waktu. Tim Nogogeni memiliki empat proyek besar yang berjalan bersamaan yaitu go-kart listrik, motor listrik, mobil urban listrik, dan urban tunnel. Dengan anggota teknikal sekitar 25 orang, mereka harus membagi waktu, energi, dan fokus untuk menjaga semua proyek tetap hidup.  Ia menambahkan pesan singkat yang menggugah, “Jangan mudah menyerah. Teruslah bermimpi.”

Di booth terakhir yang saya kunjungi, saya bertemu tim Antasena ITS, yang tampil gagah dengan motor hidrogen mereka. Motor ramping yang tampak seperti versi futuristik dari Scoopy itu bukan sekadar gaya, ia adalah juara pertama dalam kompetisi PLN ICE. Mas Jauhar dari tim Antasena menjelaskan bahwa motor hidrogen ini jauh lebih efisien dalam waktu pengisian bahan bakar dibanding motor listrik berbasis baterai. Kalau kendaraan dengan baterai bisa memakan waktu 3–4 jam charging, hidrogen memangkasnya hingga 3–5 menit saja Hal ini membuat motor hidrogen jadi opsi masa depan yang menjanjikan, lebih ramah lingkungan, dan minim limbah produksi.

Namun, seperti tim-tim lain, mereka juga menghadapi keterbatasan: waktu yang mepet, jumlah anggota yang tak cukup, serta tanggung jawab akademik yang menumpuk. Motor itu dikerjakan dalam waktu dua bulan, melibatkan bantuan tambahan di luar 15 anggota utama. Tetap saja, hasil akhirnya luar biasa, bukan sekadar kendaraan, tapi simbol perjuangan.

“Karena teknologi semakin berkembang, kita harus bisa keep up,” ujar Mas Jauhar. “Kita harus belajar bagaimana EV bekerja, mengenali potensi energi hidrogen, dan terbuka pada segala kemungkinan baru. Bisa jadi, hidrogen akan menjadi masa depan kita.”

Dari ketiga tim ini—EVOS, Nogogeni, dan Antasena—satu benang merah mengikat: hasrat muda untuk mencipta dan memberi dampak. Di balik rangka ringan, kabel-kabel, dan suara motor yang belum sekuat pabrikan, ada semangat besar yang tak tergantikan. Sebagai anak muda yang haus akan ilmu dan pengalaman, mereka mencurahkan waktu, tenaga, dan cinta ke dalam proyek-proyek yang mungkin belum sempurna, tapi sarat makna.

Dan dari ruangan kecil di sudut IIMS, harapan tentang Indonesia yang hijau dan mandiri justru bergetar paling kuat.




Komentar

Postingan Populer